(Electric
guitar
riff
dengan
distorsi
lembut) (
Drum
masuk
dengan
ketukan
stabil,
vokal
pada
reff
Nada
menjerit
tinggi)
Di
ufuk
barat
matahari
mulai
meredup
Bayang-bayang
panjang
menyapa
setiap
sudut
Kita
berdiri
di
persimpangan
jalan
yang
sunyi
Melihat
dunia
yang
sedang
kehilangan
jati
diri
Asap
membubung
tinggi
menutupi
cakrawala
Menyisakan
tanya
tentang
arti
sebuah
bangsa
Apakah
kita
lupa
cara
untuk
saling
sapa
Atau
hati
sudah
beku
tertutup
rasa
curiga
Oh,
lihatlah
kehancuran
di
mana
mana...
Hentikan
semua....
Perang
hanya
membawa
luka
Bumi
menangis
menelan
air
mata
manusia
Tak
ada
pemenang
hanya
debu
yang
tersisa
Kita
semua
hanya
korban
dalam
permainan
Menunggu
waktu
meredam
dentuman
yang
menakutkan
Kawat
berduri
melintang
membelah
taman
kota
Memecah
telinga
inilah
mimpi
yang
nyata
Anak-anak
berlari
menangis
pilu
Diatas
langit
hitam
bau
mesiu
Bahaya
nyata
mengintai
di
balik
dinding
Menghancurkan
harapan
yang
dulu
dan
masa
depan
Tak
ada
gunanya
adu
kuasa
di
atas
tanah
Jika
yang
tersisa
hanyalah
duka
yang
dalam
Oh,
lihatlah
kehancuran
di
depan
mata
Perang
membawa
duka
tanpa
ada
akhirnya
Bumi
menangis
menelan
air
mata
manusia
Tak
ada
pemenang
hanya
debu
yang
tersisa
Puing
kehancuran
dimana
mana
Menunggu
waktu
meredam
jiwa
yang
menakutkan
Pikirkanlah
sebelum
bumi
terbelah
Jabat
erat
tangan
meski
hati
terasa
berat
Perdamaian
bukan
sekadar
bass
basi
semata
Langkah
nyata
untuk
mengobati
luka
dan
pilu
Dunia
butuh
cahaya
bukan
lagi
gelap
yang
membara
Mari
berhenti
sejenak,
menghitung
jumlah
korban
kehancuran (
Melodi
gitar
elektrik
yang
melengking
namun
tetap
harmonis)
Esok
pagi
pasti
datang
dengan
harapan
baru
Jika
kita
berani
melepaskan
dendam
yang
membatu
Lepaskan
senjata
yang
membelenggu
jemari
kita
Biarkan
cinta
yang
memimpin
di
setiap
langkah
Bukan
tentang
siapa
yang
berdiri
paling
tinggi
Tapi
tentang
siapa
yang
mampu
memaafkan
diri
sendiri
Oh,
lihatlah
kehancuran
di
depan
mata
Perang
membawa
duka
tanpa
akhir
Bumi
menangis
menelan
air
mata
manusia
Tak
ada
pemenang
hanya
debu
yang
tersisa
Kita
semua
hanya
korban
semata
Dari
ambisi
keangkuhan
semata
Menunggu
waktu
meredam
dendam
yang
menakutkan
Biarkan
damai
menyentuh
sanubari
Jangan
biarkan
sejarah
terulang
kembali
Perang
hanya
menyisakan
duka,
tinggalkanlah
selamanya (
Fade
out
dengan
petikan
gitar
elektrik
perlahan)
Cukup
sudah,
cukup
sudah.
Hentikan
semua...
Demi
kedamain
dunia (
Suara
drum
perlahan
hilang)